Jumat, 03 Februari 2012

Kumpulan puisi

Kumpulan Puisi
1. Pengibar Bendera

Sajak ibukota di hamparan jalan raya
mata lelah berkusam wajah
ringkuk ini badan bergumam sejalan

tidak ada gundah tersirat kini
maju jalan mobil orang berdasi
lihat kibaran benderaku ini

merah putih bukan kainku
adalah jiwa adalah raga
sekali-kali jangan kau ubah lain lagi!

biar bukan istana tempatku
biar jalur kereta naunganku
biar nasi bungkus dan tempe bacem

biar yang peduli atau tidak ambil duli
tiada butuh aku dikasihani

getar gemetar tubuhku,
Ah! persetan !
Kibaran ini biar kujalani sampai mati.

Tanti 160708

2. PRAJURIT JAGA MALAM

Karya : Chairil Anwar

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(1948)
Siasat,
Th III, No. 96

3. Bangkit

Dipopulerkan oleh Deddy Mizwar

Bangkit itu… Susah

Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang

Bangkit itu… Takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya

Bangkit itu… Mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan Prestasi

Bangkit itu… Marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu… Malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu

Bangkit itu… Tidak ada
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa

Bangkit itu… Aku
Untuk Indonesiaku

4. BANGKITLAH DARI KEBODOHAN
TataSutabri


MASA demi MASA berganti
Selalu SEPI akan Prestasi
Terkontaminasi oleh AMBISI & KORUPSI ::ngakak2::
Bumi Pertiwi seakan...Mati Suri

Paradigma Anak Bangsa LESU
Terbelenggu oleh NAFSU & Budaya PALSU ::hohoho::
Ijazah Palsu, Pemimpin Palsu, Gelar Palsu, Uang Palsu...
Oli Palsu, Telor Palsu, Guru Palsu, Polisi Palsu...
PALSU selalu terpicu setiap WAKTU

Anak NUSA Pemimpin Bangsa
Jagalah sikap dari perbuatan MURKA ::bweekk::
Kikis habis mental Penguasa SARA
Jadilah pelayan JAGAD Nusantara

KEBANGKITAN NASIONAL Citra Derajat Bangsa
Tumbuhkan sikap kepahlawanan ::unggg::
Menjadi FIGUR Panutan & Tauladan
Untuk BANGKIT dari KEBODOHAN
Semoga TUHAN mengabulkan...

12-05-2007, 09:49 AM

Puisi untuk HARI KEBANGKITAN NASIONAL, 20-Mei-2007.

5. Untuk Anakku

Oleh: Dr. Susilo Bambang Yudhoyono

Anak-anakku,

Kau bangun mahligai cinta di taman kehidupanmu

yang teduh hari ini

Kembang kasih tengah mekar di hatimu

Bersemi, Merajut hari-hari, yang telah lama kau titi

Kau tengadahkan jiwa dalam lantunan tembang kesyukuran abadi

Tetapi, kutitip pesan untukmu, anak-anakku

Taman bathin yang kau sirami dengan cahaya harapan dan keindahan

tak kan selalu cerah, meski tak kering berkah

Jika kau tatap jaman di kejauhan

engkau tengah berlayar di arung Samudera raya

di antara karang, topan dan bulan purnama

Perjalananmu panjang, anakku

dan tak miskin rintangan serta godaan

Namun, layar telah kau kembangkan

Jangan surut dan tertinggal di buritan

Satukan jiwamu, jemput masa depanmu, di tanah kemenangan

Abadi dalam keberkahan Tuhan

6. Kepada Saudaraku M. Natsir

karya : Hamka

Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan

Inilah puisi gubahan Hamka yang diberi judul

"Kepada Saudaraku M. Natsir".
Puisi ini ditulis Hamka di Ruang Sidang Konstituante pada 13 November 1957, setelah mendengar pidato Moh. Natsir

di Majlis Konstituante.

7. KU KALUNGKAN SETIA

Bila engkau menjunjung nama, nama seorang pemimpin
Lembut lenggang, tenteram langkah ku tiadalah lain
Akan ku bukakan pintu bagimu
Dengan tangan setia seorang isteri
Akanku tutupkan jendela malam mu
Dengan hembusan takwa di sudut hati.

Bila engkau menjunjung nama, nama seorang pemimpin
Ku payungkan hamparan takdir seribu yakin
Ketika gelisah membelah tenang dada mu
Dibeban cinta membela rakyat
Negara, bangsa, agama menantimu
Cekal! Cekalkan lelah relamu
Aku bersama debarnya, menghulurkan kudrat.

Selagi engkau bernama pemimpin, bagi ku tentulah sudah
Betapa pengorbanan sangat penting
Namun jangan kau gentar
Aku biasa jadi lilin, aku biasa bisikkan di telinga mu,
“Teruskan berjuang pemimpin agung”
Bagaikan kata pujangga lama, pusaka indah
Tabahkan jiwa, teguhkan iman
Pantang undur menempuh dugaan”.

8. PENYAMBUNG MERDEKA

Berkurun dulu
manusia silih berganti mati
di pangkuan pertiwi
untuk pewarisnya yang tinggal
terurai belenggu bernama hamba
lalu menghirup udara merdeka.

Sejarah juga berkata
ada manusia-manusia rakus
pengintai kelalaian,
merentas seluruh hukum manusia
lalu mengikat kembali belenggu
kepada manusia merdeka yang leka.

Demikian……………………….
sandiwara manusia
dalam menterjemah rupa merdeka
tanpa takut, tanpa rasa dosa
yang dikira
berkuasa atas manusia lain.

Anak-anak warisku
begitu sejarah merdeka manusia
silih berganti
maknanya
kekadang entah di mana.

Anak-anak ku
Hari ini
bara merdeka yang digenggam
perlu subur didadamu
dilengkari pagar bernama maruah.

Gemala yang menyinari
seluruh pelusuk pertiwi
bahang sinarnya pula
menyinari jalan merdeka
yang di kiri kanannya
terpacak gagah si Jalur Gemilang.

9. ...

Terima kasih pada satu pengobanan
Dato’ Maharajalela, Rosli Dhobi
Darah merahmu
terhimpun dalam dupa merdeka
Terima kasih pada satu usaha
Tunku, Tun Razak, Tun Hussein dan Dr. Mahathir,
sentuhan merdekamu
seindah rembulan dipuncak menara
keringat sengsara mu
mengalir mencipta pustaka jaya
sebagai pusaka merdeka.

Anak-anakku
kerana mereka
Hari ini kita mengenali wajah kita
Hari ini kita memahami cita rasa kita
Hari ini kita memilih untuk kita
Hari ini kita memakai baju kita
Hari ini kita bina arah kita
Hari ini kita bukan lagi hamba
kita merdeka,
kita bahagia!

Anak-anak ku
kau hidup selesa
d dada merdeka
persara asasi manusia
Satu harga diri
satu kebebasan yang sejati
terserah padamu sebagai milik abadi.

Anak-anak ku
Hidupmu untuk merdeka
jiwamu sandarannya
akal budimu harus merdeka
untuk mencipta khazanah kita!
baru lantas kita bicara
yang kita penyumbang merdeka!

HABIBAH ZON

(diambil dari www.patriotisme.net.my)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar